Ketahui Apa Saja Risiko yang Mengintai Saat Membangun Rumah Impian

Membangun rumah memang menguras tenaga dan pikiran, baik dari pihak kontraktor maupun owner. Sebagai pemilik proyek, apakah Anda pernah berhadapan dengan kontraktor “nakal” yang menelantarkan bangunan dan membawa kabur uang proyek?  Atau sebaliknya, sebagai profesional Anda pernah bertemu klien yang tidak mau membayar walaupun proyek sudah selesai?

Mewujudkan rumah impian mulai dari tahap perencanaan, perancangan, pembangunan, hingga perawatan memang tidak semudah menjentikkan jari. Banyak hal yang harus diperhitungkan, dipertimbangkan, dan diputuskan dengan teliti. Memilih arsitek, desainer, kontraktor, dan penyedia material bukan hal yang sederhana. Karena melibatkan keseluruhan proses untuk mewujudkan hunian impian yang berkualitas dan nyaman. Ditambah lagi melibatkan uang yang jumlahnya tidak sedikit. Apa saja bahaya dan risiko yang mengintai saat membangun rumah impian? Apa solusinya? Dan, bagaimana menjamin hubungan kinerja yang baik antara owner dan penyedia jasa? Mari temukan jawabannya di sini.

1.Kontraktor Kabur, Rumah Idaman Tinggal Impian

Kendala dalam proyek biasanya terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pengalaman owner akan tahapan proyek. Termasuk istilah-istilah yang kerap kali digunakan dalam perjanjian proyek. Kurangnya pengawasan langsung juga menjadi pemicu munculnya penyedia jasa “nakal” yang memanfaatkan kesibukan owner. Hal klise yang paling sering terjadi biasanya seputar uang yang dibawa kabur oleh kontraktor yang kemudian menyisakan kebingungan, kekesalan, dan impian yang tak terwujud.

  1. Jadwal Molor Tidak Sesuai Rencana

Biasanya jadwal pembangunan sudah direncanakan dan disetujui kedua pihak sebelum proyek berjalan. Memang, dalam pelaksanaannya sering terjadi kendala tak terduga. Pengadaan material yang terkendala suplai distributor maupun faktor cuaca bisa menghambat pembangunan. Namun, kontraktor yang berpengalaman sudah dapat mengantisipasinya. Dalam surat perjanjian kerja, toleransi keterlambatan sudah diperhitungkan dengan teliti.

Namun, betapa kesal dan kecewa rasanya, jika berhadapan dengan kontraktor yang ternyata kurang kompeten dan bertanggung jawab. Pembangunan molor jauh dari rencana, bahkan mangkrak. Coba bayangkan kalau Anda harus mengontrak rumah saat menunggu rumah Anda terbangun dan kontraknya hampir habis, namun rumah belum kunjung selesai.

  1. Pembangunan Selesai Namun Tidak Sesuai Perjanjian

Dalam kasus lain, pembangunan selesai, namun tidak sesuai perjanjian. Kontraktor bersikeras telah melaksanakan pembangunan sesuai gambar kerja dan tidak mau bertanggung jawab atas hasil pekerjaan yang dianggap owner tidak sesuai perjanjian. Sementara itu, owner merasa sangat tidak puas atas kualitas hasil bangunan. Tapi, apa memang harus seperti itu? Apakah harus selalu was-was untuk mendapatkan rumah impian?

  1. Setelah Deal, Kontraktor Menaikkan Nilai Konstruksi

Sebenarnya, keinginan owner untuk mewujudkan rumah impian serta kebutuhan penyedia jasa untuk mendapatkan penghasilan dan track record yang baik, adalah hubungan mutualisme yang saling menguntungkan. Namun, ada saja bahaya dan risiko yang mengintai saat membangun rumah impian. Setelah owner melakukan pembayaran, seringkali penyedia jasa menaikkan nilai konstruksi yang jauh lebih tinggi dari perjanjian saat proyek sudah berjalan. Coba bayangkan, sangat tidak nyaman bukan? Betapa kesal dan khawatir jika harus menghadapi permasalahan seperti itu.

  1. Proyek Mangkrak Karena Owner Menunda Pembayaran

Ketidakpuasan dan perselisihan tidak melulu disebabkan pihak penyedia jasa yang kurang kompeten. Ada juga proyek yang mangkrak karena owner tidak melakukan pembayaran atau tidak kunjung menyelesaikan pembayaran walau proyek telah rampung sesuai perjanjian.

Akhirnya, cukup banyak kasus perselisihan proyek yang akhirnya harus melibatkan pihak kepolisian, bahkan hingga ke pengadilan. Pastinya siapapun tidak mau menghadapi kasus seperti itu karena akan sangat menyulitkan dan melelahkan.

Lalu, apa solusi untuk permasalahan ini? Setidaknya adakah jalan keluar untuk meminimalisasi risiko terjadinya perselisihan?

  1. Escrow, Solusi Meminimalisasi Perselisihan Antara Owner, Arsitek, dan Kontraktor

Dalam transaksi jual-beli rumah dikenal jasa “escrow” sebagai pihak ketiga yang menjadi perantara. Demikian pula pada jasa “design and build”. Escrow menjadi pihak yang memihak kedua sisi, yakni owner dan penyedia jasa. Escrow menjembatani transaksi dan perjanjian yang sudah disetujui kedua belah pihak, serta memastikan hak setiap pihak dapat diterima setelah melaksanakan kewajibannya sesuai ketentuan.

Sebagai pihak ketiga, tentu saja escrow harus netral dan tidak berat sebelah. Escrow memastikan setiap poin dan tahapan yang tertera dalam perjanjian dapat terlaksana dengan baik serta tepat waktu. Jika ada hal yang tidak sesuai dengan perjanjian, escrow akan mengingatkan pihak yang melanggar untuk segera memenuhi kewajibannya dan “menahan” hak pihak tersebut sampai kewajibannya terselesaikan.

Misalnya, di tahap pertama, kedua pihak setuju akan melakukan peninjauan dan pembayaran saat konstruksi pondasi selesai. Escrow akan membantu owner memastikan tahapan pengerjaan pondasi selesai dengan baik dan tepat waktu. Escrow juga memastikan kontraktor mendapatkan pembayarannya. Jika ternyata tahapan konstruksi pondasi tidak terlaksana dengan baik, escrow tidak akan memberikan pembayaran sebelum kontraktor menyelesaikannya. Hal ini sesuai dengan ketentuan tenggat waktu yang sudah ditentukan sebelumnya.